EVALUASI DAN PENGEMBANGAN JARINGAN IRIGASI RAWA PASANG SURUT TERHADAP POLA OPERASI PINTU AIR D.I.R PEMATANG LIMAU KABUPATEN SERUYAN

hairin noor, Suhardjono Suhardjono, Tri Budi Prayogo

Abstract


ABSTRAK: Kabupaten Seruyan Propinsi Kalimantan Tengah secara umum memiliki lahan dan air yang cukup tersedia untuk pertanian, tetapi potensi tersebut belum sepenuhnya dimanfaatkan secara optimal. Meningkatnya kebutuhan pangan menuntut pemerintah melakukan upaya intensifikasi dan ekstensifikasi pertanian. Daerah Irigasi Rawa (D.I.R) Pematang Limau yang berada di Kabupaten Seruyan dipengaruhi oleh muka air pasang surut yang terjadi pada DAS Seruyan. Pada musim hujan, muka air meningkat akibat air pasang dan curah hujan. Sementara di musim kemarau lahan pertanian menjadi kering. Untuk itu perlu dilakukan pengaturan pola operasi pintu air. Pola operasi pintu air bertujuan untuk mengatur tinggi muka air di saluran. Untuk mengetahui profil perubahannya dilakukan pemodelan. Pemodelan dilakukan pada profil memanjang (long section) di saluran primer dengan bantuan  HEC-RAS 5.0.1  pada kondisi kering. Simulasi dilakukan dalam empat kondisi: (1) simulasi berdasarkan input data debit air pasang tanpa pintu air, (2) simulasi dengan pintu air (existing), (3) simulasi dengan merubah lebar pintu air saluran primer dari 1 m menjadi 1,5 m dan (4) merubah koefisien manning dari 0,027 menjadi 0,018. Dari beberapa simulasi yang dibuat, simulasi kedua menunjukan elevasi muka air tertinggi pada cross section         1-12, namun tidak mampu menggenangi lahan yang berada di cross section 10-12. Langkah penanganan selanjutnya adalah dengan menutup pintu air pada saluran primer ketika puncak debit pasang, serta membuat rekomendasi setiap saluran sekunder dibuat pintu air dan ketika proses pasang berlangsung pintu-pintu tersebut ditutup. Langkah ini dilakukan untuk membuat elevasi muka air menjadi rata-rata. Berdasarkan hasil perhitungan kedalaman genangan pada lahan  sebesar 0,001 m atau 1 mm jika secara bersamaan, sedangkan jika dilakukan secara bergilir 0,015 m atau 1,5 cm. Berdasarkan hasil perhitungan genangan yang terjadi akibat hujan diperoleh 0,061 m atau 6,1 cm, sedangkan hasil perhitungan di saat pasang dan bersamaan terjadinya hujan diperoleh 0,062 m atau 6,2 cm. Alternatif terakhir untuk mengatasi kekeringan di saat musim kemarau adalah dengan sistem pompanisasi. Hasil perhitungan dengan lama operasi pompa 10 jam/hari selama 6 hari, jika kedalaman genangan (y) 5 cm, maka kebutuhan unit pompa sebesar 12 buah. Pengembangan dilakukan dengan membuat pintu air di setiap saluran sekunder sebanyak 19 buah dan memperbaiki pintu air pada saluran primer dan sekunder masing-masing sebanyak 1 buah, agar sistem tata airnya bisa dikendalikan dan diatur, sehingga hasil budidaya pertanian meningkat.

 

Kata kunci:  Elevasi, existing, long section, HEC-RAS, cross section, manning.

 

ABSTRACT. Seruyan Regency of Sentral Kalimantan Province generally has  sufficient  land and water for agriculture, but the potential not used fully optimally. The increasing need  of food demand the government to do intensification and extensification. Pematang Limau Swamp Irrigation Area (S.I.A) located at Seruyan Regency is influenced by tidal water occurred at Seruyan watershed. At the rainy season, the water level increase because of tide and rainfall. While in the dry season the agricultural land  become dry. Because of that it needs operation pattern regulation of the sluice. The operation pattern of sluice aimed at regulate the water level at the channel. To know the change profile done with modeling. The modeling done at the long section at the primary channel with HEC-RAS 5.0.1 at the dry condition. Simulation done in six conditions (1) simulation based on  tidal water discharge input without sluice (2) simulation  with existing sluice (3) simulation by changing the primary sluice gate width  from 1 m become 1.5 m  (4) change the manning coefficient from  0.027 to 0.018. From several simulation  made, the second simulation  showed  the highest water elevation at the cross section 1-12, but unable to inundate land at the cross section of 10-12. The handling step is by closing the sluice at the primary channel during the tidal peak, and make recommendation  each secondary sluice  made as sluice and during the tidal process the gates are closed. The step is done to make water level elevation become average. Based on the calculation results, inundation depth at land of 0.001  m or 1 mm if simultaneously, while if done in rotation  0.015 m or 1.5 cm. Based on the calculation results, the occurred inundation because of rain obtained 0.061 m or 6.1 cm, while calculation results during tide and simultaneously  with the rain obtained 0.062 or 6.2 cm. The final alternative to overcome dryness during dry season with pumping system. The calculation results with pump operation period  of 10 hours/day during 6 days, if the inundation l depth (y) of 5 cm, then the pump unit needed of 12 pumps. The development done by making sluice at each secondary  channels  of 12 gates, improving the sluice at the primary and secondary  channel each 1 gate,  so the hydrology  system can be controlled and regulated, so the agricultural cultivation outcome increase.

 

Keywords: elevation, existing, long section, HEC-RAS, cross section, manning


Full Text:

PDF

Refbacks

  • There are currently no refbacks.


Copyright (c) 2018 Jurnal Teknik Pengairan

Creative Commons License
This work is licensed under a Creative Commons Attribution 4.0 International License.